Sulitnya Tiket Nonton Piala Dunia
Minggu, 04 Juni 2006 | 13:25 WIB
TEMPO Interaktif, Berlin: Tidak rugi Carsten Eggert bersama seorang temannya bermobil hampir 100 km dari Muenster ke Gelsenkirchen. Mereka seperti mendapat durian runtuh karena bisa mendapatkan dua tiket pertandingan Piala Dunia 2006.
"Saya tidak mengira bisa mendapatkan tiket, apalagi pertandingan Jerman. Ini benar-benar luar biasa," katanya pada televisi ARD. Ia memang membeli tiket asal-asalan, tapi beruntung bisa mendapatkan tanda masuk pertandingan Jerman-Ekuador pada 20 Juni.
Penjualan tiket nonton pertandingan Piala Dunia secara langsung sejak Selasa lalu telah dibuka di sejumlah tempat. Gelsenkirchen, yang menjadi salah satu kota tuan rumah, termasuk yang dibuka paling awal.
Sejumlah pendukung fanatik beruntung bisa mendapatkan tiket dan sebagian kecil sangat beruntung bisa membeli tiket pertandingan Jerman. Tapi akan lebih banyak yang pulang dengan tangan hampa. Mereka memanfaatkan tiket kembalian yang semula dialokasikan untuk sponsor dan negara peserta.
Penjualan tiket tahap pertama dilakukan secara online selama setahun. Tapi pelaksanaannya agak kacau. Para calon penonton ini hanya bisa berharap-harap cemas mendapatkan jatah tiket. Mereka harus rajin memelototi website FIFA kalau-kalau ada tiket yang dikembalikan. Itu pun mereka harus ikut undian dulu.
Urusan tiket ini bahkan sampai masuk pengadilan. Bulan lalu, Pengadilan Frankfurt mengabulkan tuntutan calon penonton yang membeli karcis perempat final dari pasar gelap.
Sulitnya memperoleh karcis via jalur resmi menyebabkan Joern K, pencinta sepak bola fanatik, berupaya ke sana-sini, antara lain lewat biro lelang elektronik E-bay. Ia berhasil menemukan orang yang mau menjual tiket pertandingan perempat final yang dicarinya meski untuk itu ia harus merogoh kocek amat dalam, yakni 880 euro (hampir senilai Rp 10 juta) alias delapan kali lipat lebih mahal dari harga resmi untuk dua tiket yang diinginkannya. Itu pun ia masih harus mengurus sendiri balik nama dari nama pembeli resmi, yang tertera di atas tiket, ke panitia pelaksana Piala Dunia 2006. Bereskah urusannya? Ternyata tidak.
Panitia menolak pengalihtanganan tiket itu karena Joern K dianggap menyalahi aturan. Ia tidak membeli tiket lewat jalur resmi. Dengan sistem penjualan via Internet seperti yang ditetapkan panitia, memang tidak memungkinkan siapa pun untuk memperjualbelikan tiket karena nama dan datanya tertera di atas tiket. Data dan informasi si pemegang tiket itu akan diakses di pintu masuk stadion.
Dengan begitu, orang yang tak berhak memegang tiket sah tak akan berhasil lewat pintu penjagaan. Cara ini praktis diterapkan untuk menangkal calo alias penjualan tiket lewat pasar gelap. Maklum, begitu banyak peminat, sementara jumlah kursi penonton terbatas. Tak aneh jika tiket terus diperebutkan dan diincar para pencinta sepak bola.
Joern K sendiri mengaku jengkel karena berkali-kali gagal membeli tiket lewat jalur resmi. Itu yang menyebabkan ia berupaya lain dengan cara mengumumkan keinginannya mendapatkan tiket di situs E-bay.
Karena gagal balik nama, ia pun memilih jalur hukum. Perkara Joern K dimenangkan dengan pertimbangan bahwa transaksi terjadi sebelum panitia membuka situs penjualan kembali dan pengalihtanganan tiket.
"Pengadilan mengabulkan kasus penggugat dalam hal tiket pertandingan perempat final Piala Dunia di Gelsenkirchen pada 1 Juli 2006," kata juru bicara Pengadilan Frankfurt, Bernhard Olp, seperti disiarkan hampir semua stasiun televisi.
Joern K lega meski Jens Rueger, salah seorang pengurus Federasi Sepak Bola Jerman (DFB), menganggap keputusan itu khusus. Artinya, keputusan itu tidak dimaksudkan untuk membenarkan praktek pasar gelap. "DFB berkepentingan membendung pasar gelap dan menginginkan agar semua pendukung memiliki kesempatan memasuki stadion tanpa bergantung pada tebalnya dompet," katanya kepada Deutsche Welle.
Die Welt, der Spiegel, die Zeit, Hannover Algemeine,Sri Pudyastuti Baumeister (Jerman)




